Perjuangan Sang Aktivis Difabel

Oleh: Sabrina Rizkita

IMG_20160204_130937
Melakukan presentasi dengan media tabel atau grafik mungkin sudah biasa kita lihat. Namun dengan permainan ular tangga? Sangatlah berbeda. Model presentasi inilah yang digunakan aktivis difabel PATTIRO Sri Katon saat lokakarya mitra peduli difabel di Makassar 4 Februari lalu.

Peraga tersebut menggambarkan upaya Sri saat menjadi fasilitator lapangan di kota Sorong. Sri adalah perempuan yang tinggal di Distrik Mariat, Kabupaten Sorong. Ibu satu anak ini tidak memiliki dua tangan sehingga dalam melakukan kegiatan sehari-hari menggunakan kedua kakinya. Awalnya rasa minder dan ketidakpercayaan dirinya masih sangat besar, sehingga ada kalanya Sri merasa malu untuk mengeluarkan pendapat di forum. Kalaupun berpendapat, sifatnya masih bertutur cerita pribadi yang bahkan tidak terkait dengan tema diskusi. Ketika kemudian terlibat menjadi penggerak di wilayah Sorong, ia sempat diundang ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan pembekalan dari Program Peduli Perempuan Difabel oleh PATTIRO. Selain itu, ia juga mendapatkan pembekalan orientasi lapangan dari SAPDA Yogyakarta.

Sekembalinya dari pelatihan, Sri mendapatkan semangat besar untuk menjalankan tugas yang ia laksanakan guna membantu warga difabel lainnya. Sri kemudian melakukan kunjungan impromptu secara informal terhadap warga asli Papua dan para pendatang. Tujuannya untuk mencari penyandang disabilitas dan mengetahui berbagai kendala yang dialami. Di setiap kedatangannya, Sri bukan hanya mendata, tapi ia juga kerap mengajak berdiskusi individu-individu difabel tersebut dan keluarganya. Ia juga senantiasa memberikan semangat untuk menumbuhkan kepercayaan diri mereka dan keluarganya yang ia lakukan pada kunjungan rutinnya.

Penolakan dari keluarga menjadi salah satu hambatan para penyandang disabilitas. Mereka malu terhadap lingkungan di sekitar sehingga disembunyikan oleh keluarganya sendiri. Dampaknya, salah satu aktivis difabel bernama Wader sempat ingin bunuh diri.

Lokasi setiap distrik yang berjauhan dan keterbatasan moda transportasi tidak jarang membuat Sri harus berjalan jauh. Bahkan ia pernah terperosok ke dalam kubangan lumpur yang cukup dalam saat melakukan kunjungan ke pedalaman. Beruntung tak lama kemudian datang dua orang pemuda yang membantunya dan mau mengantarkannya pulang ke rumah.

Pendekatan yang dilakukannya pun membuahkan hasil. Satu persatu aktivis mulai berpartisipasi. Hingga saat ini terdapat 10 aktivis yang sering melakukan interaksi formal dan informal. Penyandang disabilitas juga mulai menyuarakan aspirasinya atas nama difabel. Tidak hanya itu, 83 keluarga difabel di Distrik Mariat dan Mayamuk sudah terlibat dalam pertemuan keluarga difabel untuk memperjuangkan kesejahteraan anggota keluarganya yang disabilitas.

Media massa lokal juga berperan dalam mengangkat isu difabel. Liputan tentang Sri Katon pada 12 November 2015 cukup memberikan informasi luas terutama bagi keluarga difabel. Setelah banyak dukungan datang bahkan dari Metro TV yang meliput, yang secara waktu relatif bersamaan dengan talkshow yang dilakukan di RRI, TV lokal, dan berbagai diskusi serial.