Ulasan Buku | HATTA: Aku Datang Karena Sejarah oleh Sergius Sutanto

HATTA: Aku Datang Karena Sejarah

Qanita, 2013, 354 halaman

Ulasan oleh: Danardono Siradjudin

…., setelah DPR yang dipilih rakyat mulai bekerja dan konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Segera, sesudah konstituante dilantik, saya akan meletakkan jabatan itu secara resmi. 
Itulah cuplikan surat resmi Mohammad Hatta kepada parlemen hasil pemilihan umum tertanggal 20 Juli 1956. Sebagai Wakil Presiden, Hatta memilih mundur dari hingar binger politik yang menurut analisis dan pendiriannya sudah melenceng dari cita-cita proklamasi. Soal korupsi yang mengganas, soal beda pendapat dengan Soekarno tentang posisi PKI dan garis politik luar negeri Indonesia. Maka, per 1 Desember 1956, sang proklamator meninggalkan gelanggang politik secara resmi. Hatta lebih memilih jalan sepi. Jalan sesuai hati nurani dan nalar yang diyakininya. Cuplikan adegan sejarah ini disajikan secara apik dan deskriptif oleh Sergius Sutanto, dengan setting rumah tua di bilangan Orange Boulevard yang kini dikenal jalan Diponegoro. Sebagai Sutradara, Sergius mampu menyajikan model bercerita yang agag berbeda dalam menggambarkan babak demi babak sejarah perjalanan hidup seorang Muhammad Hatta. Sebagai pembaca, kita diajak terlibat larut dalam pergulatan emosi sang tokoh dengan alur cerita flash backBuku ini mampu mengisi sedikitnya literatur tentang Hatta. Dengan gaya bercerita lugas, tanpa banyak metafora, justru mampu menghantar esensi pesan mudah ditangkap. Proses refleksi, pembatinan nilai dan dialektika proses hidup sangat kaya pada tiap babak cerita. Meski tidak menyajikan pokok-pokok pikiran Hatta soal ekonomi, koperasi, buku ini cukup menjadi penghantar mengenal secara individu seorang Hatta. Sergius mampu menerangkan keterkaitan setiap babak hidup Hatta dan kelak akan berhubungan dengan sikap politik yang dipilihnya. Kecurigaan terhadap PKI, persimpangan ide dengan Soekarno sejak awal, pertemuan dan diskusi intens bersama Agus Salim serta kedekatan Hatta dengan Sjahrir. Sikap politik Hatta adalah oase sekaligus cermin. Sejarah mengajarkan, betapa pergulatan dan pergaulan politik para pendahulu bangsa, secara kualitas melampuai zamannya. Hirup pikuk politik di parlemen hari ini menjadi pembanding sederhana.
Aku datang karena sejarah.