Ulasan Buku | Citizen Action and National Policy Reform: Making Change Happen

Citizen Action and National Policy Reform: Making Change Happen

Editor: John Gaventa dan Rosemary McGee
Zed Books, New York, 2010, 226 halaman

Ulasan oleh: Didik Purwandanu

Equality is not a foreign idea, but was defended by Islam long before it become fashionable in the West.” Kutipan ini berasal dari deklarasi yang dilakukan Liga Demokratik untuk Hak Perempuan di Maroko tahun 2003. Ini menjadi bagian upaya mereka mereformasi regulasi hukum keluarga secara Islam, yang didorong kaum ulama pasca kemerdekaan dari Prancis di tahun 1957-1958. Pengalaman ini ditulis Alexandra Pittman dan Rabea Naciri di dalam buku yang diedit oleh John Gaventa dan Rosemary McGee, yaitu Citizen Action and National Policy Reform: Making Change Happen. Ini hanya salah satu studi kasus di dalam buku ini. Ada tujuh kasus lain yang dibahas dengan fokus pada masyarakat sipil melakukan aksi kolektif dan berhasil. Yaitu Afrika Selatan tentang kampanye pengobatan penderita HIV/AIDS, kedua advokasi redistribusi lahan di Filipina, ketiga upaya mengurangi kematian ibu melalui advokasi anggaran di Mexico, keempat di Chile kampanye yang dikawal organisasi non-pemerintah tentang hak anak, kelima para aktivis akar rumput berjuang tentang hak atas informasi, keenam di Brazil masyarakat sipil mengupayakan partisipasi di perencanaan kota untuk hak sosial dan perumahan, dan terakhir pengalaman aktivis di Turki memperjuangkan perlindungan hal seksual.Belakangan semakin sering buku berisi artikel perbandingan yang ditulis di bidang transparansi dan akuntabilitas. Gaventa dan McGee boleh dibilang sebagai dosen sekaligus praktisi di isu reformasi kebijakan dan masyarakat sipil yang aktif menulis isu ini, seperti halnya Jonathan Fox dari American University dan Archon Fung dari Harvard Kennedy School. Gaventa sendiri berlatr belakang pengajar di University of Sussex, dan aktif di berbagai organisasi non-pemerintah.Sebenarnya banyak detil menarik yang disampaikan masing-masing penulis studi kasus. Misalnya bagaimana di Filipina mereka menggunakan strategi ‘bibingka’, sejenis kue di sana yang maksudnya sinergi antara dorongan dari aktivis di lapangan dengan para pembaharu yang berada di pemerintahan. Ada pula aktivis di India yang menggalang dukungan pemenuhan hak atas informasi menggunakan slogan-slogan yang menggelorakan semangat. Di sisi lain Gaventa di bagian pengantar sudah menuntun pembaca dengan beberapa benang merah. Utamanya, penting bagi aktivis mengidentifikasi dus memaksimalkan situasi lingkungan politik yang memungkinkan (enabling environment) bagi publik dapat tak sekedar berpartisipasi namun juga melakukan aksi kolektif bagi perubahan yang dikehendaki. Pengalaman di Afrika Selatan, Filipina, dan Chile menunjukkan ruang itu tersedia setelah masa otoritarian. Di sisi lain situasi politik bersifat dinamis, sehingg kalaupun fase demokratis semakin terbangun namun belum tentu daya tawar masyarakat sipil menguat, sebagaimana yang terjdi di Filipina maupun dalam menjelaskan dinamika berbeda di Brazil. Strategi koalisi, aliansi, maupun sinergi lain menjadi penting dilakukan para aktivis tak hanya sesama mereka namun juga dengan jurnalis dan pembaharu di pemerintahan. Salah satunya melalui kampanye gagasan seperti di Maroko di awal tulisan yang dimuat di media.